Senin, 17 Agustus 2015

Memaksa Puasa

"Ya Rabbi, kutahan dirinya dari syahwat dan hawa," ujar Puasa. "Ya Rabbi, ku cegah dia dari tidur di malam hari", seru Qur'an. Betapa indahnya. Puasamu jelita; menjadi latihan tuk memamerkan ibadah pada Alloh semata; menabukan dampaknya pada sesama dalam bentuk akhlak mulia. Seindah-indah lantunan adalah Al-Qur'an; sesyahdu-syahdu waktunya adalah kala malam; dan seagung-agung penghayatannya ada dalam qiyamul lail.

Alloh menyingkap kesejatian kita dalam Ramadhan. Ketika surga dibuka, neraka ditutup, syaitan dibelenggu; ternyata hawa nafsu masih begitu. Setelah Alloh dan diri ini; mungkin kita harus malu pada syaitan yang agaknya berdecak, "Jangan salahkan aku; tak ku goda pun kau terjerumus".

Imam Asy-Syafi'i menasihatkan, "Kita adalah pemburu surga dan buronan neraka; menakjubkan jika masih bisa bersantai bermalas dalam keinsyafan akannya". Menginsyafi kurangnya kesyukuran dan menggelisahkan berlimpahnya dosa adalah daya bagi puasa dan qiyamul lail imanan wahtisaban, hingga diampuni.

Beratnya ibadah terasa; tetapi jika semata Alloh yang diadui, diharap, ditakuti, dan dicinta; ada tersabda, "PAHALAMU SENILAI KADAR KEPAYAHANMU". Tak ada yang hisa kuta pamerkan dari puasa; tidak awalnya sahur, tidak akhirnya buka, tidak lemasnya badan, tidak pula segarnya penampilan. PUASA adalah TARBIYAH SUNYI untuk bermesra dengan-Nya; ada tersabda firman Qudsi, "Maka puasa itu hanya untuk-Ku; Aku saja yang 'kan membalasnya".

Terjaminkan rumah surga dari bawah ke atasnya; bagi siapa saja yang menghindari debat walau dirinya tepat, menjauhi dusta walau bercanda, dan berakhlak mulia. Begitu antara lain hikmah Ramadhan; agar kita mengenal diri kita seakrab-akrabnya dalam daya taatnya; tuk 11 bulan hadapi musuh yang nyata.

(Salim A. Fillah, "Menyimak Kicau Merajut Makna")

Selamat berpuasa Saudariku..
Selamat beribadah..
Selamat bermujahadah..

๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Tidak ada komentar:

Posting Komentar